Kejari Solok Selatan Tetapkan 4 Tersangka Atas Kasus Dugaan Korupsi 4,4 M

Solok – jayantaranews.com

Hakim Pengadilan Negeri, Koto Baru Solok, menolak seluruh dalil praperadilan yang diajukan tiga warga Solok Selatan (Solsel) yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Solsel dalam kasus dugaan korupsi.

“Sebetulnya ada empat tersangka, tapi hanya tiga yang mengajukan praperadilan dan satu orang tidak ikut. Semua dalil yang diajukan tiga tersangka ke PN Solok ditolak hakim, Syofia Nisra, sehingga penetapan tersangka tetap berlaku atau sah,” jelas Kajari Solsel, M. Rohmadi.

M. Rohmadi menyebutkan, Kejari Solsel menetapkan status tersangka sejak 19 September 2017 terhadap empat orang tersangka, atas perkara kasus dugaan korupsi pengerjaan perbaikan tebing penahan banjir di aliran Batang Bangko, Kecamatan Pauh Duo dengan kisaran anggaran Rp. 4.4 miliar.

“Ada tiga dalil yang dipraperadilan oleh tersangka. Pertama, tidak diterimanya pemberitahuan penyidikan. Kedua, selama diperkarakan mereka tidak mengetahui permasalahan, dan terakhir, tidak tercukupinya alat bukti,” tandasnya.

Dengan ditolaknya semua dalil itu, tambah M. Rohmadi, sehingga penetapan tersangka adalah sah.

“Untuk itu, sekarang kami lanjutkan penyelidikan terhadap tersangka, dari ahli, saksi dan tersangka. Untuk penahanan, kita masih menunggu hasil audit BPK terkait  jumlah kerugian negara. Tapi dari kesimpulan sementara, kerugian negara kisaran Rp. 900 juta. Hasil penyelidikan nanti bisa saja berkembang ada atau tidaknya bertambah tersangka lain. Kita tunggu saja,” ungkapnya.

Tiga tersangka yang mempraperadilkan Kejari Solsel, adalah : Itomarliza, Neti dan Irda Hendri. Sedangkan , Beni Ardi sebagai pemenang tender, tidak ikut.

Kajari Solsel, M. Rohmadi, didampingi Kasi Pidsus, Agung, mengatakan, perkara penetapan tersangka dalam kasus dugaan korupsi itu berawal pada tahun 2016, setelah terjadi bencana banjir bandang di Solsel.

Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solsel, BNPB Pusat memberikan anggaran untuk tanggap darurat bencana dengan total sebesar Rp. 9 miliar. Dari total itu, salah satunya pengerjaan perbaikan tebing penahan banjir dialiran Batang Bangko, Kecamatan Pauh Duo dengan kisaran anggaran Rp. 4.4 miliar.

“Disebabkan bencana, pengerjaan proyek itu tidak wajib lelang sehingga bisa melalui Penunjukkan Langsung (PL). Salah satu perusahaan yang ditunjuk adalah CV. Mutiara Teknik Utama,” terangnya.

Ia menambahkan, dikarenakan suatu CV tidak bisa melaksanakan pengerjaan di atas Rp. 2 miliar, sehingga Neti dan Itomamarliza menghubungi Beni Ardi sebagai pemilik PT. Buana Mitra Selaras untuk perusahaan yang mengerjakan proyek. Ada tiga poin yang disangkakan.

 “Beni dijanjikan fee sebesar Rp. 75 juta. Selisih harga pembelian kawat Bronjong Rp. 110 ribu/unit dan material batu yang digunakan untuk Bronjong tidak beli,” tutupnya. (Bambang)