Korban Pinjaman ONLINE Di Bandung Akan Lapor POLDA JABAR

IMG_20180916_223657

Korban pinjaman Online berkumpul di Rumah Makan Selasih, Komplek Cikutra Baru Bandung, Sabtu (15/9/2018)

JAYANTARANEWS.COM, Bandung

IMG_20180628_215930

Kendati menawarkan kemudahan, bila tidak hati – hati dalam prosesnya pinjaman berbasis online bisa membelit seseorang dalam utang tak berujung.

Tak hanya itu, penderitaan juga dialami si peminjam akibat cara penagihan yang kasar dan intimidatif ditambah bunga pinjaman yang tinggi.

Seperti yang dialami Elis Widaningsih. Ia mengaku terjebak pinjaman online dengan sistem dan pengenaan bunga yang mencekik.

” Ada pinjaman satu juta lima ratus, keterimanya satu juta. Pinjaman harus dikembalikan tujuh hari. Kalau terlambat bunganya seratus lima puluh ribu sehari, ” ujarnya di Rumah Makan Selasih, Komplek Cikutra Baru, Bandung, Sabtu (15/9/2018).

Pengalaman pahit yang dialami Elis, mendorong dirinya aktif menggalang korban pinjaman online lainnya. Menurut Elis, rata – rata alasan peminjam karena ada kebutuhan yang mendesak. Tapi setelah pinjam malah terjebak utang berkepanjangan.

” Iya Pak, banyaknya yang kesusahan jadi cari yang cepat. Tapi begitu pinjam jadi kejebak. Saya kapok,” bebernya.

Ketua Tim Advokasi Pinjaman Online Fatir Rizkia Latif, SH mengatakan, saat ini sudah ratusan orang korban pinjaman online yang mengadukan permasalahannya.

” Saat ini yang tercatat sudah ada 200 (dua ratus) orang yang mengadu. Masalahnya rata – rata proses penagihan yang intimidatif sama bunga yang tinggi,” ujarnya di lokasi yang sama.

Fatir menambahkan, ada beberapa langkah yang akan diambil, seperti melaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan penetapan bunga sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan Bank Indonesia.

” Kita sudah melaporkan ini ke OJK dan responnya baik. Kita juga akan melayangkan surat ke BI karena bunga yang dikenakan perusahaan penyelenggara online ini tinggi. Ketentuan BI soal bunga ada ambang terendah dan tertinggi. Ya kita minta bunganya sesuai ambang BI saja,” ujarnya.

Lebih lanjut Fatir akan melaporkan masalah ini ke Polda Jabar. Hal tersebut terkait dengan adanya cara penagihan yang intimidatif dan peretasan data peminjam.

” Laporan ke Kepolisian karena ada perbuatan tidak menyenangkan dan peretasan data peminjam. Ini melanggar Undang Undang ITE,” tandasnya.

Soal peretasan data dialami oleh korban pinjaman online lainya, yaitu Rizki. Dirinya tahu hal tersebut setelah pembayaran utangnya bermasalah.

” Utang saya diumbar ke beberapa nomor yang ada di handphone. Kalau begitu sudah keterlaluan,” jelasnya. (Tim JN)