Loading...

Tersisakan Berugak Tanpa Penghuni, Mamak Danu Berjualan Di Pantai Labuan Haji

IMG-20180901-WA0010

JAYANTARANEWS.COM, Lotim

IMG_20180628_215930

Pantai Labuan Haji yang biasanya menjadi ikon destinasi di Lombok Timur, kini hanya tersisakan berugak yang berserakan tanpa penghuni. Warung – warung yang menjadi tongkrongan para pengunjung yang berdatangan dari berbagai wilayah kini hanya bangku dan meja tanpa aktivitas, Sabtu (01/09/18).

IMG-20180901-WA0011

Sejak adanya gempa 7.0 SR di Lombok, Pantai Labuan Haji sepi. Aktivitas masyarakat yang biasanya padat menyapa pantai dan menikmati terbitnya matahari di pagi hari, kini hanya tersisakan karang dan rumput laut di pinggir pantai

Jalan menuju pantai pun sepi, hanya dipenuhi tenda – tenda tempat mengungsi. Para nelayan yang biasanya tak kenal libur aktivitas lautnya, kini lebih memilih berdiam diri di rumahnya karena masih trauma dengan adanya informasi yang menyebar akan adanya tsunami.

Para pedagang di warung pantai sepi. Pedagang yang biasanya paling digemari karena tempatnya yang strategis dengan pantai yang berada di depan POM bensin, mengakui bahwa warungnya sepi pembeli.

Warung pantai “Pengkolan Solar”, begitu orang menyebutnya. Karena tempatnya yang berada di pengkolan POM bensin merindukan suasana ramai dengan pembeli karena keunikan khas kopinya. “Ya, Kopi Lombok asli, sehingga pengunjung pantai menyapanya dengan penuh kehangatan”.

Ibu Danu, dari Kampung Ambengan Labuan Haji yang merupakan pemilik “warung pantai pengkolan solar” menuturkan, bahwa warung miliknya sudah dua mingguan sepi, bahkan warung – warung yang lain di pinggir pantai mengeluhkan karena tidak adanya pemasukan yang merupakan mata pencaharian dengan berjualan khususnya di pinggir pantai.

Mamak Danu, begitu panggilanya. Dia bersyukur juga karena dirinya masih bisa berjualan di warung pinggir pantai miliknya, walaupun penjual – penjual yang lain lebih memilih berdiam diri di rumah, bahkan ada yang memilih berjualan di pasar untuk sementara sembari situasi dampak gempa stabil. ” Sudah sebulan ini, sejak dari adanya gempa 6.0 SR, 5 Agustus minggu lalu, warung kami sepi Pak, tidak seperti biasanya yang ramai dengan lalu lalang aktivitas dari luar labuan haji,” tuturnya.

Bahkan, kata Mamak Danu, sempat sudah istirahat jualan selama dua minggu sejak awal gempa itu, karena trauma. ” Tapi karena bosan di rumah tidak ada aktivitas, akhirnya saya jualan lagi. yah, walaupun satu dua yang datang menyapa warung kami, namun kami bersyukur masih bisa berusaha untuk mengurangi beban suami, meskipun kami tinggal sendiri yang jualan, tapi kami mensyukuri karena masih bisa berusaha,” tambahnya.

Hardian, salah satu Crew JN yang sedang menikmati panorama pantai sejak pagi, Sabtu (1/8), menyarankan, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu miring yang meresahkan masayarakat Lombok.
Harapan dari masyarakat Lombok, semoga duka yang menimpa Lombok saat ini segera berakhir, supaya bisa beraktivitas seperti biasanya dan tidak lagi menyebarkan isu – isu miring yang belum tentu terjadi, seperti isu adanya tsunami, pencurian, dan adanya bekas telapak tangan di tembok, sehingga warga Lombok tidak berani menempati rumahnya.

Sejauh ini aktivitas sekolah di Lombok kembali normal seperti biasanya, mengingat sebentar lagi para peserta didik akan menghadapi semster. (Iz JN)