Loading...

Sidang Pra Peradilan Sat Reskrim Bukittinggi, Diduga Ada REKAYASA

IMG_20181026_124541

JAYANTARANEWS.COM, Bukittinggi

IMG_20180628_215930

Sidang gugatan Pra Peradilan kembali digelar yang ketiga kalinya, pada Jum’at (26-10-18) pukul: 10:15 WIB, di Pengadilan Negeri Kelas 1B Jl Veteran No 219, Kubu Gulai Bancah, Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat 26116.

Pembacaan gugatan Pra Peradilan terhadap Sat Reskrim Polres Bukit Tinggi, yang dibacakan oleh AKBP Widya Eka Putra, Kompol Sapril, SH, MM, MH, Brigadir Wira Alfiandri, SH yang digugat karena diduga kuat telah melanggar, terkait Misprosedurial, Etika Profesi dan Kode Etik Kepolisian.

IMG_20181026_124549

Baca berita sebelumnya: AM Diduga Disekap Oknum Penyidik Polres Bukit Tinggi, BPI Minta Propam Polri Usut Tuntas! – http://jayantaranews.com/2018/10/am-diduga-disekap-oknum-penyidik-polres-bukit-tinggi-bpi-minta-propam-polri-usut-tuntas/

Termohon gugatan Pra Peradilan terhadap Sat Reskrim Polres Bukit Tinggi Sumbar, yang dibacakan oleh PH Widya, Sapril dan Wira, meminta Hakim dalam sidang gugatan pemohon untuk diabaikan, karena dianggap tidak mendasar, seperti apa yang disebutkan dalam gugatan Pra Peradilan tersebut.

Baca berita terkait: Sidang Pra Peradilan Bukttinggi Molor, Anggia: Saya Merasa Hak Asasi Saya Dirampas! – http://jayantaranews.com/2018/10/sidang-pra-peradilan-bukttinggi-molor-anggia-saya-merasa-hak-asasi-saya-dirampas/

Menurutnya, tidak mendasar dan tidak relevan, semua sudah sesuai prosedur, dan Kapolres bertanggung jawab, sebagai laporan untuk Kapolda, ujarnya.

Akhirnya, Hakim Tunggal Pra Peradilan Munawwar Hamidi, SH, menunda kembali sidang, sampai dengan hari Senin. ” Apa semua jelas, dan masih ada yang ingin dipertanyakan, bila tidak sidang ditutup, dan digelar kembali Senin,” tutup dia.

IMG_20181026_124626

Saat ingin diwawancara JAYANTARANEWS.COM usai sidang, Widya, Sapril selaku yang membacakan sidang gugatan Pra Peradilan tersebut, menolak diwawancara. ” Saya tidak bisa menjawab, karena saya hanya staf, silahkan saja dengan Kabid Humas Kombes Pol Nina Febri linda, SH di Polres atau di Polda, nanti dia yang akan jawab,” katanya.

Diwawancara terpisah, Anggia Murni selaku pemohon mengungkapkan,” Jelas dalam gugatan tersebut, mereka banyak mungkir dari fakta sebenarnya, jelas penangkapan dan penjemputan pada suami dan saya itu terjadi, dan surat penangkapan juga baru dibuat secara dadakan, dan saya memang dikunci di kamar hotel. Bila bukan penyekapan apa dong sebutan yang eloknya..?, dan jelas pernah menetapkan suami saya sebagai DPO, kenapa harus menyangkal,” papar Anggi. (Tim JN)