Aneh!, Tanah Gadean Dianggap Hak Milik Oleh Penerima Gadai

IMG-20181124-WA0185

JAYANTARANEWS.COM, NTB

IMG_20180628_215930

Dalam kehidupan bermayarakat, tentunya tidak terlepas dari sifat toleransi antar sesama, demi terciptanya kehidupan yang harmonis.

Namun tidak demikian halnya yang terjadi di Desa Labangka Satu, Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa Besar, NTB (Nusa Tenggara Barat).

Hal akad gadai tanah, awalnya dilakukan oleh Baiq Mus (pihak gadai) kepada Amaq Rh (almarhum), selaku penerima gadai dengan besaran gadai Rp 250. 000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari tahun 1996, ucap Baiq Mus (Inaq Nr).

Lanjutnya lagi, bahwa tanah gadai tersebut akan bisa diterima, apabila beserta sertifikat. Namun karena kebutuhan yang sangat mendesak, akhirnya diberikanlah sertifikat tersebut sebagai syarat gadai oleh Inaq Nr kepada Amaq Rh, selaku penerima gadai.

IMG_20181124_203414

Budi, Kades Labangka Satu

Dihari yang sama, Tim JAYANTARANEWS.COM, menelusuri lebih lanjut akan kebenaran akad gadai tersebut, dengan meminta keterangan kepada Kades Labangka Satu, Budi.

Dia memberikan keterangannya, pada Rabu (21/11),” Kalau memang dari pihak keluarga ngga pernah merasa menjual, dan cuman sifatnya menggadai, tentunya saya ngga berani menentukan sikap, karena seharusya Bh dan Ahd, (anak dari Amaq Rh, penerima gadai), semestiya harus ada di sini, dan duduk bersama untuk memecahkan masalah tanah gadai tersebut,” ucapnya.

” Dan kalau misalnya Bh dan Ahd ini bisa menunjukan bukti surat jual beli, maka jelas semuanya. Akan tetapi, saat dihubungi via telepon, katanya dia bilang akan datang, namun sampai saat yang telah ditentukan selama seminggu sampai dua minggu pun, tidak diindahkan oleh sodara Bh,” imbuh Kades Budi.

Ditambahkan Budi, kalau memang pihak yang merasa dirugikan, dan merasa keberatan, silahkan saja untuk menempuh jalur hukum atau musyawarah. Mana yang terbaik! Hanya saja, kami dari pihak pemerintah desa, sangat berharap, apabila masalah ini bisa cepat terselesaikan dengan baik, katanya.

Pada saat yang sama, Tim JAYANTARANEWS.COM mengkonfirmasi Bh via telepon untuk dimintai keteranganya, akan tetapi tidak menunjukan itikad baik. Sempat tersambung, namun langsung dimatikan, dan berapa kali dihubungi namun sudah tidak aktif.

Menurut keterangan dari kepala dusun (kadus) Am mengatakan,” Bh dan Ahd kakak beradik, mengaku bahwa tanah tersebut adalah tanah miliknya, sehingga dijual kepada Abi seharga 15 juta dalam jangka waktu penggarapan, selama 6 (enam) tahun dan disaksikan oleh saya,” imbuhnya.

Ironisya, Kadus Am ini sebelumnya pernah diberitahukan oleh pemilik tanah, juga keluarga, bahwa tanah tersebut sedang dalam masalah, namun tidak diindahkan oleh Am selaku kadus, bahkan mengizinkan Ahd dan Bh menjual kepada Abi. Dengan demikian, sikap yang ditunjukkan Am terkesan berani, karena menurut masyarakat, kadus tersebut ditutup uang satu juta oleh Bh dan Ahd, seperti diucapkan warga setempat.

IMG_20181124_203358

Ahmad Yamani, pemilik tanah

Rabu, (21/11), Tim JAYANTARANEWS.COM, mendatangi tempat kediaman Ahmad Yamani, selaku pemilik tanah, sekaligus yang tertera namanya di sertifikat tanah tersebut. Kemudian telah dibuat kuasa kepada anaknya, yakni Abdurrahman, yang merupakan pewaris dari anak perkawinan Nur dan Ahmad Yamani.

” Terkait hal gadai tanah, saya sudah bicarakan kepada Ahd, anak dari Amaq Rh ini, yang sebelumnya mertua saya, yakni Inaq Nur, yang menggadaikan kepada orang tuanya sebesar Rp 250.000 pada tahun 1996. Untuk itu, saya minta kepada Ahd menambahkan uang 38 juta kepada saya, supaya tanah tersebut bisa jadi hak milik Ahd dengan waktu yang saya berikan. Hanya tiga bulan, dan apabila dalam waktu yang telah ditentukan tidak bisa melunasi, Ahd sanggup mengembalikan kepada saya. Namun nyatanya, sampai tiga tahun, uang yang dijanjikan belum juga diberikan, maka sesuai dengan perjanjian, tanah tersebut bisa diambil balik,” imbuhya.

Ahd yang dihubungi untuk dimintai keterangan via telepon berkilah, dengan alasan sedang di Mataram. (Rustam JN)

Bersambung…!