Gelar Haul, Gusdurian UNWAHAS Komitmen Lanjutkan Perjuangan Gus Dur

IMG-20181228-WA0414

JayantaraNews.com, SEMARANG

Gusdurian Universitas Wahid Hasyim Semarang menggelar haul KH Abdurrahman Wahid ke 9 dengan tema “Meneladani Perjuangan Gus Dur” di Aula Kampus Gedung C, Kamis (26/12) malam.

Kegiatan diisi dengan pembacaan tahlil, manaqib dan maulud. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi membedah pemikiran Gus Dur dari berbagai perspektif.

Bahasan Gus Dur dan tantangan Unwahas dibedah oleh dua orang profesor. Pertama Prof Dr H Noor Achmad, MA mantan Rektor Unwahas, dan kedua Prof H Mahmutarom, SH, MA, rektor Unwahas sekarang.

Sang mantan rektor membuka dengan pemikiran Gus Dur yang universal meliputi berbagai macam aspek, dari politik dan kebangsaan hingga hukum dan HAM, mampu melampaui zamannya. Dikatakannya, gagasan Gus Dur masih tetap aktual hingga saat ini, dan perlu untuk terus dikaji oleh generasi berikutnya.

IMG-20181228-WA0417

Di hadapan Gusdurian Unwahas yang baru saja berganti kepengurusan, keduanya memberikan tantangan agar Gusdurian Unwahas bisa menghidupkan pusat kajian pemikiran Gus Dur yang ada di lingkup dunia akademis.

” Dari pihak kampus siap memfasilitasi apa yang diperlukan untuk merealisasikan Pojok Gus Dur. Semua tentang Gus Dur ada di sini. Buku yang ditulis oleh Gus Dur, yang membahas tentang pemikiran beliau, dan buku – buku yang pernah beliau baca,” kata Muchtarom yang disambut tepuk tangan hadirin.

Dien Tajul Arifin, koordinator Gusdurian Unwahas yang baru saja dilantik menggantikan Lukmanul Hakim, menyatakan siap menerima tantangan. Dikatakan mahasiswa jurusan Ilmu Politik angkatan 2016 ini, kepengurusannya siap mengembangkan apa yang sudah dirintis oleh pengurus sebelumnya.

Gayung bersambut, dukungan juga disampaikan oleh Syaiful Huda, Seknas Gusdurian Semarang. Pihaknya menyatakan siap menyediakan materi yang diperlukan untuk mewujudkan perpustakaan Gus Dur yang digagas Gusdurian Unwahas.

Sementara itu, pembicara lainnya H Taslim Syahlan, M.Si menyoal Gus Dur dan kesetaraan, Dr Nanang Nurkholis, MA dari perspektif kebudayaan, dan Shuniyya Ruhama dari sudut pergerakan NU.

” Warisan dari Gus Dur kepada kita semua adalah bagaimana kita merawat keberagaman ini. Kita tidak bisa menjadi Gus Dur, tapi kita bisa mencontoh semangat berpikirnya, gagasannya tentang kebangsaan,” tutur Taslim Sekretaris FKUB Jawa Tengah ini.

IMG-20181228-WA0416

Diskusi dihadiri civitas akademika Unwahas yang tergabung di Gusdurian dan juga masyarakat umum berlangsung hingga larut malam. (Sulhanudin)