Pemkab Dinilai Malas Diskusi, Ketua GP Ansor Maros Tolak Anggaran Bendung Majannang

IMG_20181206_174739

JayantaraNews.com, Maros

Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Maros Abrar Rahman, menolak tegas anggaran penelitian untuk membendung air di Sungai Majannang, sebagaimana telah disetujui DPRD bersama Pemkab Maros di APBD 2019.

Abrar menuturkan, Pemerintah Kabupaten Maros, di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)  TA 2019, hanya menganggarkan biaya penelitian dengan opsi membendung air di Sungai Majannang.

Kebijakan ini jelas menunjukan rendahnya keberpihakan Pemerintah Daerah – Kabupaten Maros, terhadap krisis air bersih yang setiap musim kemarau dialami masyarakat di pesisir Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, lanjutnya.

Pemerintah Daerah Kabupaten Maros selama ini kurang terbuka dan bahkan terkesan malas membuka ruang diskusi bersama para pakar dan peneliti air demi mencari sumber air, karena dengan forum diskusi itu tentu akan mudah merumuskan solusi yang efektif dan efisien untuk mengatasi krisis air bersih, tandas Mantan Ketua Umum PB HIPMI Maros Raya ini.

Berdasarkan data yang dikemukakan PDAM Maros sendiri, bahwa debit air di Bantimurung, sesungguhnya lebih dari cukup untuk dialirkan ke wilayah pesisir Kecamatan Bontoa. Namun kami heran, kenapa Pemkab Maros tidak memilih opsi tersebut, padahal jauh lebih efisien dan efektif mengatasi masalah krisis air bersih tersebut, sesungguhnya ini soal political will dan political action yang tidak ada dari pemerintah daerah, tandas Abrar.

Kita tahu bersama, bahwa Kabupaten Maros ini punya dua sumber air yang besar, disamping juga banyak sumber – sumber air yang lain, seperti di kawasan Karst Rammang – Rammang, dan gugusan Karst Bantimurung – Bulusaraung, lanjutnya.

Tapi sumber air bersih yang besar ada 2, yakni dari Kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung di Kecamatan Bantimurung dan Bendungan Lekopaccing di Kecamatan Tanralili. Menjadi ironis!, karena airnya tidak dinikmati masyarakat Maros secara optimal, Bantimurung lebih banyak dinikmati perusahan semen raksasa bernama Bosowa Semen, dan perusahan tambang – tambang lain. Sementara Lekopaccing sebagian besar dinikmati warga Makassar, katanya.

Hemat kami, untuk kepentingan jangka panjang, maka diperlukan keberanian dan ketegasan Pemerintah Daerah dan DPRD Maros untuk mendesak perusahaan seperti Bosowa Semen untuk mencari sumber air yang lain, begitupun perusahaan tambang – tambang yang lain, kata Abrar.

Demikian halnya dengan sumber air di  Lekopaccing, Pemda Maros harus terus menerus melakukan negosiasi dengan mendesak Pemerintah Kota Makassar untuk mencari sumber air bersih yang lain bagi warganya, tandasnya.

Harapannya, masyarakat Maros diseluruh kecamatan bisa menikmati air bersih dengan optimal, baik untuk keperluan sehari – hari, dan untuk keperluan bercocok tanam, meskipun lagi musim kemarau, dan dengan begitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat, tutupnya. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here