Loading...

Presiden Hadiri Munas Alim Ulama & Konferensi Besar NU Di Kota Banjar

IMG-20190311-WA0013

JayantaraNews.com, Banjar

Warga Nahdliyin serta masyarakat muslim dari berbagai daerah, memadati lokasi penyelenggaraan kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Rabu 27 Februarai 2019.

Kegiatan tersebut dibuka sekitar pukul 13.00 WIB oleh Presiden Republik Indonesia, Ir H Joko Widodo didampingi Ketua PBNU Said Agil Siradj, dan Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar.

Turut hadir juga dalam kesempatan tersebut Cawapres Ma’ruf Amin, Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wali Kota Banjar Hj Ade Uu Sukaesih, Wakil Walikota Banjar Nana Suryana, Ketua DPRD Banjar Dadang Kalyubi, pengasuh Pontren Miftahul Huda Al-Azhar KH Munawir Abdurrohim, perwakilan Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari 34 provinsi, lembaga, dan badan otonom NU di tingkat pusat, serta para Kyai dari berbagai pesantren.

Dalam Munas tersebut, rencananya akan dibahas berbagai soal, diantaranya RUU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, bahaya sampah plastik, niaga perkapalan, bisnis money game (MLM), sel punca, politisasi agama, perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menyebabkan sumur warga kering, serta lainnya.

Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj mengingatkan, agar manusia dan kemanusiaan harus tetap menjadi dimensi utama dalam pembangunan. Pemerintah harus bisa memaksimalkan dampak positif dan meminimalisir dampak negatif dari revolusi industri. “ Tugas pemerintah adalah mengelola dampak positif revolusi digital, sekaligus mereduksi, dan mengantisipasi, serta  merekayasa mudarat teknologi agar tidak mendehumanisasi pembangunan,” ujarnya.

KH Said Aqil Siradj berharap, Indonesia dengan segala kearifan lokalnya bisa menyambut peluang-peluang baru dalam gelombang revolusi industri tersebut. “ Maka harus ditegaskan sampai kapanpun, Hubbul Wathon Minal Iman (Nasionalisme sebagian dari iman), harus diperkuat sebagai human center pembangunan Indonesia. Manusia hadir, tidak boleh hilang dengan kemajuan digital,” tambahnya.

Lebih lanjut, kemudian KH Said Aqil Siradj menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW ketika membangun Madinah. Pada saat itu, turun ayat Al-Qur’an yang memerintahkan Nabi mengusir siapa saja yang membuat gaduh dan mengkhianati kesepakatan bersama, Piagam Madinah. “ Sebab itu, jika ada yang mengancam dan berniat menggerogoti serta merobohkan NKRI, akan berhadapan langsung dengan NU, yang anti Pancasila, yang menggerogoti Pancasila, usir saja!,” tegasnya.

Presiden Jokowi mengucapkan terimakasih kepada NU yang telah berkontribusi besar bagi negara, agama dan masyarakatnya. “ Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada NU, karena NU sebagai jam’iyah terbesar di Indonesia bahkan di dunia sudah memberikan kontribusi besar dalam menjaga dan merawat Indonesia,” ungkapnya.

Presiden menegaskan, NU selalu berada di garis depan, baik saat berjuang mengusir penjajah merebut kemerdekaan Indonesia maupun menjaga negara dari kelompok-kelompok yang ingin mengubah dasar negara.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga akan membangun 1000 Balai Latihan Kerja (BLK) yang terpusat di pesantren-pesantren. “ Persaingan global mengenai industri harus dilandasi kekuatan sumber daya manusianya. Maka dari itu, pemerintah akan mendirikan 1000 balai latihan kerja bagi pesantren,” katanya.

Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 resmi dibuka dengan ditandai oleh Presiden Jokowi dengan memainkan alat musik angklung  besama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj.

(Seksi Peliputan & PemBeritaan Bidang KomUnikasi -Diskominfo Kota Banjar)

Loading...