Loading...

4 Ton Daging Celeng Dimusnahkan Di Balai Karantina Pertanian Bandar Lampung

IMG_20190517_011054

JayantaraNews.com, Lampung

Kolaborasi Intelijen Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Bandar Lampung, bersama Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Pelabuhan Bakauheni dan Seaport Interdiction Polres Kabupaten Lampung Selatan, pada tanggal 28 April 2019 lalu, berhasil menggagalkan pengeluaran daging celeng seberat 4.000 Kg. Daging celeng tersebut dibawa dari Kenten, Palembang, Sumatera Selatan dengan tujuan Solo, Jawa tengah, dengan menggunakan kendaraan colt diesel berwarna merah ber-plat nomor BG 8997 YA.

IMG_20190517_011041

Pada saat diperiksa, supir kendaraan sempat berbohong kepada petugas dan mengatakan, bahwa dia membawa buah semangka dari Lampung dengan tujuan Jogyakarta.

Melihat gejala yang meragukan dan mencurigakan, petugas pun melakukan pemeriksaan muatan yang ada di atas kendaraan tersebut. Setelah diperiksa, ternyata didapati muatan berupa daging celeng yang dikemas dalam bungkus plastik, kemudian ditutupi terpal, jerami, dan semangka untuk mengelabui petugas dalam melakukan pemeriksaan.

IMG_20190517_011156

Sempat petugas menanyakan kelengkapan dokumen persyaratan karantina, namun supir tidak dapat menunjukkan dokumen yang dimaksud.

Petugas kemudian membawa kendaraan tersebut ke Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Bandar Lampung wilayah kerja pelabuhan penyeberangan Bakauheni, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Di Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Bandar Lampung, petugas menerbitkan surat perintah penahanan KH.8A.NO.2019.1.1103.0.KA.8A.K.013604.

Daging celeng yang ditahan, selanjutnya disimpan di dalam cold storage milik balai, dan akan diambil sample untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium balai vetirener Lampung.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sample yang diperiksa, adalah daging tersebut tidak layak konsumsi.

Daging mulai mengalami kebusukan disebabkan alat angkut yang dipakai tidak memenuhi kaidah lalu lintas daging. Yang seharusnya menggunakan kendaraan berpendingin yang dapat mempertahankan kualitas daging, sehingga bakteri tidak berkembang biak, karena daging yang busuk sangat berbahaya bagi kesehatan, ujarnya.
(Jupri)