Loading...

Cerpen: Cinta Yang Kandas Di Tapal Batas Pancimas

IMG_20190614_221703

Waktu itu usiaku baru 14 tahun, anak remaja imut-imut yang masih polos dan baru mengenal cinta meski baru katanya.

Sebagai anak lelaki normal, meski zaman itu tidak secanggih era sekarang, namun rasa serr terhadap belahan hati sudah mulai terbersit.

Tidak muluk-muluk memang, hanya bermodalkan dua lembar kertas bergambarkan LOVE daun sente beraroma wangi, namun lembaran demi lembaran bernada cinta..kerap kali aku layangkan ke seseorang, sebut saja ERmah. Yaa ..hampir seminggu sekali ERmah dapatkan surat cinta hasil karya penaku.

Aku masih takut bercampur malu. Meski masih disebut cinta monyet, namun rasa nggreget untuk memiliki dan mencintai seseorang sudah ada di usiaku dulu.

ERmah adalah gadis lugu di usianya, bahkan bintang di antara sekian bintang dari rekan-rekan SMP nya pada waktu itu.

Pipinya yang imut layaknya kue bakpao, bibirnya yang ranum laksana buah semangka, rambut yang terkucir buntut kuda, matanya yang sayu bak redupnya rembulan malam, hingga di mataku, dia begitu sempurna.

Aku hanya lah anak ndeso ketika itu. Untuk sekolah pun, aku mesti melintas Sungai Citanduy, yang merupakan batas dua wilayah antara Jabar dan Jateng. Tidak jarang, saat malam mingguan, aku mesti berenang seberangi sungai, hanya karena kehilangan perahu saat pulang apel menemui si pujaan hati.

Berbarengan dengan rekan-rekan yang lain, selama 3 tahun aku tempuh pendidikan tepatnya di salah satu sekolah lanjutan pertama, sebuah sekolah favorite di zamanku.

Tiga tahun berselang, hingga tiba saatnya aku pun menempuh pendidikan di sekolah lanjutan yang lebih tinggi, yakni sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di wilayah Pangandaran.

Ada rasa sedikit terkoyak, karena nyatanya, gadis pujaanku harus bersekolah di kampus yang lain, meski masih satu wilayah Pangandaran.

Kenangan berkesan yang takkan ku lupakan adalah, saat berbarengan berangkat sekolah dengan jalur yang sama. Seringkali kami bersua di sebuah terminal kecil tempat pengeteman (transit) elf maupun mini bus. Dalam hati aku berharap, “sering-seringlah berangkat bareng”, meski aku seakan malu tuk mengungkap.

“Memang itu yang aku harapkan, ingin selalu dan selalu dekat setiap kali berangkat sekolah”.

Belum juga menuai rasa bahagia saat bergita cinta di SMA, ada kabar yang membuat aku mesti ikhlas mengusap dada. ERmah, gadis pujaanku nyatanya dipinang orang.

Rasa sakit dan kecewa yang berlebihan kala itu, hingga membuat badanku lemas lunglai layaknya ditinggal pergi tuk selamanya.

Waktu terus berjalan, hingga tiba saatnya kabar kelulusan pun diumumkan. Namun tak ada lagi gairah saat penerimaan ijazah sebagai tanda berakhirnya masa belajarku.

Rasa kekecewaan yang teramat dalam semenjak kelulusan, terpaksa aku TEPISKAN! Hingga akhirnya aku harus pergi merantau tuk lupakan sementara.

Akupun sadar sesadar sadarnya, mungkin Tuhan menyuratkan bahwa ERmah bukanlah miliku.

Seiring berjalannya waktu, setelah 30 tahunan berpisah, kini, kala diadakan gelaran reunian teman-teman SMP…..dia hadir, teman-teman dekatku pun hadir, aku…ya jelas hadir.

Aku kikuk bercampur bahagia, karena nyatanya… setelah sekian puluh tahun berpisah, rupa anggun yang selama ini aku dambakan, masih tersirat jelas di wajahnya.

Disaat teman-teman yang lain sibuk dengan gunjingannya, kulihat dia duduk menyendiri di sudut ruangan. Nampak pandangan matanya yang berkaca-kaca. Aku paham, di relung hatinya seakan memberi isyarat, agar aku segera mendekat.

Kudekati dia, kupegang pundaknya, sembari kubisikan lirih di telinganya,” Status kita sudah berbeda. Masa lalu cukup menjadi kenangan, karena sejatinya, mencintai tak selamanya harus memiliki, meski hati kita tetap bertaut.”

Akupun pergi meninggalkannya, sembari sekali-kali aku menoleh ke belakang, namun dia tetap memandangku dengan mata berlinang…aku terus melangkah..melangkah dan melangkah, hingga si dia lebur dari pandangan.

Bersambung…!!!