Loading...

Mengenal Kampung Adat ‘Terpopuler’ Sebujit, Di Belahan Borneo Barat

IMG-20190612-WA0012

JayantaraNews.com, Pontianak

IMG-20190612-WA0009

Saat Tim Media menemui Ketua Pelaksana ‘Kampung Adat Sebujit’ Hatta Attar Yudist, pada Selasa (11/6), ia mengatakan, bahwa acara ini digelar dalam rangka mengangkat kebudayaan salah satu adat istiadat di Kalimantan Barat.

” Kampung Adat Sebujit, adalah sebuah adat yang terletak di perbatasan Indo-Malay, tepatnya di Desa Hlibeui Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Indonesia.”

Untuk sampai ke lokasi dari Ibukota Provinsi Kalimantan Barat – Pontianak, menempuh jarak kurang lebih 362 Km, 8 jam perjalanan melewati Kota Pontianak, Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, jelas Hatta Attar Yudist.

IMG-20190612-WA0008

Hatta memaparkan, bahwa Desa Hlibuei, atau lebih dikenal sebagai Kampung Sebujit, merupakan salah satu kampung adat dengan keberagaman budaya Etnik Dayak Bidayuhnya, yang khas dan terjaga kearifan serta kelestarian budayanya, serta alamnya yang asri dan indah. Maka tak salah lagi, jika kampung ini dianugerahi sebagai kampung adat terpopuler oleh pesona pariwisata Indonesia yang terletak di Bumi Borneo Barat.

Setiap tahunnya, kata Hatta, di kampung ini diadakan satu acara gawe besar di lingkungan rumah “Adat Baluq”, dimana dalam acara ini akan mengundang antusias minat wisatawan lokal dan mancanegara untuk datang serta berkunjung dalam event budaya terbaik yang dipersembahkan oleh Suku Dayak Bidayuh-Sebujit.

” Nyobeng atau Nibank, yang lebih dikenal sebagai gawai besar gawai padi, merupakan salah satu acara kearifan budaya dan tradisi lokal dalam penghormatan terhadap leluhurnya, serta sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Esa, atas karunia hasil panen padi yang mereka terima setiap tahun,” tutur Hatta.

Acara Gawai Nyobeng ini telah dilakukan turun temurun dari leluhur hingga sekarang setiap tahunnya.

Dalam acara Nibank atau Nyobeng tersebut, dibalut dengan berbagai keberagaman atraksi budaya lokal, tarian, tepung tawar, kuliner yang khas serta satu game lokal yang menarik, yakni panjat bambu dengan cara terbalik, yang tentunya unik dan penuh pesona etnik budaya asli Dayak Kalimantan.

Lanjut, masih banyak hasil budaya lokal yang juga turut ditampilkan dalam mensukseskan berlangsungnya acara gawai, seperti hasil kerajinan lokal simpai tas, gelang, kalung kesam rotan yang cantik dan unik, serta karya seni lainnnya yang layak go internasional untuk dikenalkan di mata dunia sebagai potensi budaya untuk SDMA yang berkualitas di sektor pariwisata.

” Ini adalah kearifan dan budaya lokal khas Indonesia yang terdapat di Bumi Sebalo Bumi Borneo Khatulistiwa Kalimantan Barat, yang harus kita kenal, kita jaga, kita pertahankan serta lestarikan bersama, agar tetap ada hingga anak cucu sebagai kearifan lokal serta budaya leluhur yang turun temurun yang layak dikembangkan dan dikenal dunia.

Ayo datang! ayo berkunjung di Bumi Borneo Barat dalam acara Gawai Nyobeng, Desa Sebujit 13-14 (Open trip & aksi baksos sosial) & 15-16 Juni 2019 (Nyobeng atau Gawai Padi).

Mari kenali budaya kita dan cintailah sebagai warisan budaya Indonesia.

” Salam lestari
Salam Pesona Indonesia.” Demikian harapan dan penjelasannya kepada Tim Media Online Indonesia. (Rellawati)