Pelaku Penganiayaan Masih Berkeliaran, Laporan Ke Polsek Cibeunying Kaler Belum Ada Tindakan!

IMG_20190611_180326

Gambar Ilustrasi

JayantaraNews.com, Bandung

IMG_20190611_165200

Dugaan kasus penganiayaan terhadap Asep Saepullah (15) korban penganiayaan, warga RT 003/RW 013 Cukang Kawung, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler Kota Bandung, oleh pelaku NN menjadi pertanyaan banyak pihak.

Pasalnya, diketahui setelah adanya pelaporan penganiayaan ke pihak Kepolisian (Polsek Cibeunying Kaler), Jalan Cikutra Barat No 08, Cibeunying Kaler, Cigadung, Cibeunying Kaler, Kota Bandung, namun si pelaku (NN), masih tetap saja berkeliaran. ” Ada apa ini? Penanganan kasus ini seakan-akan terabaikan,” ungkap Emi Suhaemi (orang tua korban), mengawali obrolannya ditemui JayantaraNews.com, Sabtu (8/6/19).

Berawal pada saat Asep Saepullah (korban) pulang dari Padasuka sekira pukul 01.00 WIB, Rabu malam (06/6/2019), korban mampir ke kios ibunya untuk makan. Setelahnya, Asep (korban) pulang ke rumah ibunya dan langsung ke kamar mandi. Setelahnya, Asep (korban) yang juga masih di bawah umur, saat itu berniat mengantar temannya (Adipian) pakai motor, tiba-tiba diserang oleh NN alias Ucing.

Belum juga berangkat, Asep (korban), tiba-tiba diserang oleh seseorang (NN) dengan menendang, memukul, lalu membantingkan ke tembok, sembari di injak bagian dada dan punggungnya. Sontak saja, karena perasaan kaget dan spontanitas, Asep (korban) langsung tak sadarkan diri.

Warga yang melihat kejadian tersebut, langsung bereaksi dan menggotong Asep (korban) ke kamarnya, yang masih dalam keadaan tidak sadar.

Begitu pun Adipian (saksi), sekaligus teman Asep (korban)  mengatakan. ” Asep (korban) mau mengantar saya pulang. Saya sudah duduk di atas motor. Tiba-tiba Asep (korban) dipukul kepalanya, ditendang, lalu ditarik dibanting ke tembok. Terus ditendang dan di injak dadanya di bagian ulu hati. Terus ditolongin sama warga yang kebetulan sedang pada ngumpul di tempat itu,” urai Adipian.

*Setelah adanya pelaporan, namun pelaku masih saja berkeliaran*

Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor: STPL/175/VI/2019/JBR/Restabes Bandung/Sektor

Berbagai asumsi masyarakat pun muncul. Apa karena rumah pelaku dekat dengan Polsek, sehingga pihak penegak hukum enggan untuk menindaklanjuti kasus tersebut, atau memang ada unsur lain..?

” Karena pada saat mau lapor ke Polres, ada salah satu anggota Kepolisian setempat yang diduga menghalangi. Padahal pada saat itu korban sudah berada di di dalam mobil Polisi, yang di antar oleh angota Polisi yang lainnya. Namun tiba-tiba datang salah satu anggota, yang mengatakan,” Tahan dulu! Jangan dibawa ke Polres dulu. Cukup selesaikan di sini saja. Jangan dibawa ke Polres,” kata Emi (ibu korban), menirukan nada bicara anggota dimaksud.

” Sebelumnya, malam itu juga, kakaknya (IW), sempat melakukan pengrusakan rumah. Kaca jendela pecah, pot bunga rusak,” ditambahkan Emi, yang merasa geram.

Namun setelah pelaporan, nyatanya pelaku masih bebas berkeliaran, bahkan informasi terakhir, pelaku sempat mencari-cari korban, dan terkesan intimidasi. ” Intinya, saya menuntut keadilan ditegakkan, biar adanya efek jera. Kalau kita tidak berlindung ke hukum, mau ke mana lagi,” tutup Emi, orang tua korban.

Saat JayantaraNews.com, pada Selasa (11/6/19), berniat hendak menemui salah satu penyidik dari Polsek Cibeunying Kaler yang menangani kasus tersebut, kebetulan sedang lepas piket.

AIPDA Ali Hamzah, Panit 1 mengarahkan, agar menunggu Pak Jajang dari Panit 3. ” Pak Jajang lepas piket. Kamis baru masuk. Dia yang menangani, sudah ada bidangnya masing-masing. Sampai dimana tindaklanjutnya. Apalagi ini di bawah umur, harusnya Polrestabes yang menangani,” ujar Ali Hamzah.

Merujuk pada Pasal 184 (1) KUHAP, bahwa yang dimaksud dengan alat bukti yang sah, adalah: (1) keterangan saksi, (2) keterangan ahli, (3) surat, (4) petunjuk, (5) keterangan terdakwa.

Sementara, merunut pada Pasal 183 sampai 202 KUHAP, dimana dalam Pasal 183 KUHAP mengatur tentang sistem pembuktian dalam perkara pidana. Dalam pasal tersebut diuraikan sebagai berikut :

“Hakim tidak boleh menjatuhkan Pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya ada 2 (dua) alat bukti yang sah, ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Selain itu, mangacu pada UU No 35 Tahun 2014, perubahan atas UU No 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak. Dimana, di situ sudah jelas, bahwa si korban (Asep) masih di bawah umur, saat ini korban (Asep Saepullah) berusia 15 tahun.

Menyikapi kasus dugaan penganiayaan tersebut, yang sampai saat ini pelaku masih juga berkeliaran, tentu saja menimbulkan polemik.

Berdasarkan Pasal 21 ayat (1) KUHP, perintah penahanan terhadap seorang tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dilakukan dalam hal:
1. Adanya situasi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka akan melarikan diri,
2. Adanya situasi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka akan merusak atau menghilangkan barang bukti,
3. Adanya situasi yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka akan mengulangi tindak pidana.

Dalam ilmu hukum pidana ketiga hal di atas lazim disebut sebagai alasan subyektif.

Sedangkan alasan obyektif diatur dalam Pasal 21 ayat (4) KUHAP yang menyatakan bahwa penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan/atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.

Hingga berita ini diturunkan, JayantaraNews.com, belum mendapatkan konfirmasi dari pihak penyidik Polsek Cibeunying Kaler, yang menangani kasus penganiayaan tersebut. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here