Loading...

Terkait Kasus Baiq Nuril, Ketua Fraksi PDI-P DPRD Sumbawa Angkat Bicara!

IMG_20190712_002749

JayantaraNews.com, Sumbawa

IMG-20190712-WA0001

Maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi dan dialami seorang perempuan, kini telah menjadi sorotan publik.

Salah satunya yang dialami oleh Baiq Nuril (BN), adalah salah satu korban yang dimaksudkan di atas.

BN mencoba dan berupaya keras mencari keadilan atas pelecehan seksual yang dialaminya, termasuk dalam hal ini merekam pelecehan seksual yang dilakukan terhadap dirinya, karena dia tahu untuk melaporkan tindakan kekerasan, dibutuhkan pembuktian, apalagi jika pelaku memiliki kekuasaan dan berkuasa atas dirinya.

Ketika rekaman tersebut disebarluaskan oleh pihak lain yang menjanjikan membantu BN mengadukan pelecehan seksual yang dialaminya ke DPR, BN dilaporkan melanggar UU ITE. Sementara pihak lain yang menyebarluaskan rekaman tersebut, tidak dilaporkan.

Terkait kasus tersebut, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Sumbawa Abdul Rafiq mulai angkat bicara atas apa yang dialami oleh BN dan mengambil langkah yang kongkrit dalam memberikan dukungan moril dengan secara resmi merekomendasi surat penangguhan penahanan setelah permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang telah diajukan BN-pun harus kandas, ditolak oleh lembaga peradilan tertinggi di negeri ini.

Meski pengadilan tingkat pertama menyatakan BN tidak bersalah, namun Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia menetapkan BN bersalah dan menghukumnya dengan penjara 6 bulan dan denda 500 juta rupiah, ujar Politisi PDI Perjuangan Abdul Rafiq yang dikenal low profile tersebut kepada JayantaraNews.com, Kamis (11/7).

Lanjut, dengan melihat beberapa dasar pertimbangan permohonan tersebut, karena BN merupakan:
1. Tulang punggung perekonomian keluarga
2. Mempunyai tanggungan keluarga
3. Akan bertindak koperatif dan siap mematuhi segala prosedur serta ketentuan yang berlaku.

Dengan menimbang alasan-alasan tersebut, dan memperhatikan alasan kemanusian, kami memohon kepada Jaksa Agung RI untuk bisa menangguhkan eksekusi terhadap yang bersangkutan, ungkapnya.

Selain itu juga, Komnas Perempuan mulai angkat bicara terkait hal tersebut. Meski menghargai keputusan MA sebagai kewenangan peradilan yang tidak boleh di intervensi, Komnas Perempuan menyesalkan tidak digunakannya Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 3 Tahun 2017 (PERMA 3/2017) tentang ‘Pedoman mengadili perkara perempuan berhadapan dengan hukum’, dalam menjatuhkan putusan kasasi dan menolak Peninjauan Kembali (PK) kasus BN ini.

Padahal, PERMA 3/2017 adalah sebuah langkah maju dalam sistem hukum di Indonesia dalam mengenali hambatan akses perempuan pada keadilan. PERMA ini adalah sebuah langkah afirmasi dalam menciptakan kesetaraan (seluruh warga negara) di hadapan hukum.

Komnas Perempuan juga menyesalkan POLRI (dalam hal ini POLDA NTB) atas dihentikannya penyidikan kasus perbuatan cabul yang dilaporkan BN, karena ketidakmampuan menerjemahkan batasan perbuatan cabul dalam KUHP ke dalam penyidikan kasus BN ini.

Ketika POLRI hanya memahami perbuatan cabul, seharusnya perbuatan yang dilakukan dengan kontak fisik, maka korban dari kasus-kasus kekerasan seksual, terutama pelecehan seksual non fisik, tidak akan pernah terlindungi.

Pengabaian atas penggunaan PERMA 3/2017 oleh Mahkamah Agung dan ketidakmampuan POLRI dalam mengenali pelecehan seksual non fisik sebagai bagian dari perbuatan cabul, telah mengakibatkan hilangnya hak konstitusional seorang perempuan warga negara Indonesia untuk mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Kondisi ini juga disebabkan keterbatasan sistem hukum dalam mengenali kekerasan seksual, sehingga memberikan peluang untuk mengkriminalkan perempuan korban kekerasan seksual.

Keterbatasan sistem hukum ini bukan saja dari sisi materil, tetapi juga formil (Hukum Acara) sebagai standar yang harus dijalankan peradilan, sejak dari penerimaan laporan hingga persidangan. Termasuk dalam hal ini, keterbatasan sistem pembuktian dan ketersediaan sumber daya yang memadai bagi penghapusan diskriminasi hukum di Indonesia. Tampak adanya kedangkalan pemahaman konsep hukum yang seharusnya memberikan perlindungan atas kompleksitas pola-pola kekerasan seksual yang menyasar, khususnya kepada perempuan.

BN adalah korban berlapis dari kekerasan seksual yang dilakukan atasannya, dan dari ketidakmampuan negara melindunginya. Kriminalisasi pada BN menjadi preseden buruk bagi hilangnya rasa aman bagi perempuan dan absennya negara dalam melindungi perempuan korban kekerasan seksual, khususnya pelecehan seksual.

Untuk itu, Komnas Perempuan meminta:
– 1. DPR RI dan Pemerintah untuk segera membahas dan mengsahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, dengan memastikan ke sembilan jenis kekerasan seksual termasuk Pelecehan Seksual dalam RUU tersebut tetap dapat dipertahankan,
– 2. Presiden RI untuk memberikan Amnesti kepada BN sebagai langkah khusus sementara atas keterbatasan sistem hukum pidana dalam melindungi warga negara korban dari tindakan kekerasan seksual (belum memberikan kesetaraan perlindungan), sebagaimana prinsip afirmasi yang dimungkinkan dalam konstitusi dan prinsip due dilligence yang ada dalam konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW), yang telah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1984,
– 3. Hakim Pengawas Mahkamah Agung (MA) mengoptimalkan fungsi pengawasan atas pelaksanaan PERMA 3/2017 di lingkup pengadilan, sejak dari pengadilan tingkat pertama sampai dengan MA,
– 4. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA) dan Dinas PPPA setempat mengupayakan pemulihan dan pendampingan kepada BN, khususnya kepada keluarga dan anak-anaknya yang masih kecil,
– 5. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) untuk mengeluarkan kebijakan zero tolerance kekerasan seksual termasuk pelecehan seksual di lingkup Kemendikbud, dan merekomendasikan kepada para pendidik pada institusi formal dan non formal untuk meningkatkan edukasi pencegahan kekerasan seksual. (Dhy JN)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here