Akhirnya Benang Kusut Terkait Permasalahan PT. JLM Karawang, Mulai Terurai

Karawang – Jayantara News

IMG_20180202_185549

Polemik terkait PT. Jatisari Lestari Makmur (JLM), akhirnya secara perlahan mulai terkuak permasalahannya. Perusahaan yang rencananya akan membangun pabrik kaca di Desa Cikalongsari, Kecamatan Jatisari, Karawang itu sempat heboh setelah beberapa kalangan masyarakat mempertanyakan dan mempersoalkannya, dikarenakan lokasi pembangunannya berada pada lahan teknis pertanian, atau yang biasa disebut dengan zona hijau. Hingga akhirnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang melakukan pemberhentian pembangunan dan penyegelan.

Ditemui Jayantara News, Minggu malam (11/2), salah seorang Pemerhati Pemerintahan dan Politik Kabupaten Karawang, yang selama ini memantau dan mengawal perkembangan segala kejanggalan di wilayah Pemkab Karawang, Andri Kurniawan, mengungkapkan, bahwa pasca terjdinya penyegelan, pendapat masyarakat semakin riuh. Belum lagi setelah Bupati dan Kepala Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Karawang melakukan jumpa Pers, dan mengakui dokumen perizinan PT. JLM untuk pabrik itu palsu.

Ada yang menyarankan, agar Pemkab Karawang melalui Kepala DPMTSP Karawang melaporkan atas dugaan pemalsuan dokumen dengan adanya dugaan pemalsuan tanda tangan Kepala Dinas serta stempel Dinas. Namun ada juga yang menyarankan, agar PT. JLM yang melakukan pelaporan kepada pihak berwajib, karena PT. JLM pun dianggap sebagai korban penipuan, jika benar PT. JLM menerima dokumen perizinan palsu, ujarnya.

Namun sepertinya saran dan pendapat kedua yang akhirnya berjalan. Yaitu, agar PT. JLM membuat Laporan Polisi.

Beberapa hari ini beredar kabar, bahwa dari permasalahan PT. JLM, sudah ada beberapa tersangka yang ditetapkan oleh Unit Kriminal Umum (Krimum) Polda Metro Jaya, atas dugaan penipuan terhadap PT. JLM.

Tentunya dalam menyikapi persoalan ini, tandas Andri, yang juga selaku orang pertama yang mempersoalkan masalah ini, dan begitu intensnya mengawal permasalahan tersebut, membeberkan. “Sudah sejak awal saya menyarankan, kalau memang PT. JLM merasa dirugikan, kenapa tidak menempuh upaya hukum, dengan membuat Laporan Polisi (LP), agar benang kusutnya terurai,” katanya.

“Karena memang sejak mencuatnya permasalahan ini, saya menduga, kalau PT. JLM pun korban atas ketidaktahuannya cara mengurus perizinan dan ketidaktahuan bahwa lokasi tersebut merupakan zona hijau”.

“Sebab saya juga menduga, pastinya PT. JLM menggunakan perantara dalam mengurus perizinan. Ya kalau memang sudah ada tersangkanya, bagus lah, artinya tinggal dikembangkan,” ucapnya lagi.

“Memang saya pun sudah mendengar kabar itu, beberapa tersangka yang diduga terlibat dalam dugaan penipuan perizinan PT. JLM yang sudah ditetapkan tersangka dan sudah diamankan oleh penyidik Krimum Polda Metro Jaya”.

Adanya proses hukum di Polda Metro Jaya, berarti Locus Delicti atau lokasi/tempat terjadinya dugaan penipuan tersebut berada di DKI Jakarta. Sehingga prosesnya harus di wilayah hukum Polda Metro Jaya.

“Meski sudah adanya beberapa nama yang ditetapkan sebagai tersangka, apa kah hanya terhenti di situ saja ?”.

“Saya menduga, rasanya tidak mungkin. Tentunya patut diduga adanya pihak-pihak lain yang terlibat. Ini harus digali dan dituntaskan sampai benar-benar tuntas”.

“Saya pun menyarankan kepada yang sudah ditetapkan tersangka, agar membuka semuanya. Buka saja semua yang terlibat, jangan mau menanggung akibatnya sendiri. Kenapa saya mencurigai dan menduga adanya keterlibatan pihak lainnya ?. Sebab kalau dilihat dari kapasitas beberapa orang yang sudah ditetapkan tersangka, tidak memiliki kapasitas apa pun di Pemerintahan Karawang,” tukasnya.

Logikanya, seseorang bisa yakin dan menjadi korban penipuan, tentunya ada orang yang membuatnya yakin. “Untuk itu, dalam waktu dekat ini, saya akan mendatangi Polda Metro Jaya. Meminta dan mensupport Polda Metro Jaya, agar mengusut tuntas perkara ini. Masalahnya, dari permasalahan ini, selain PT. JLM yang dirugikan, masyarakat Karawang pun sudah di rugikan, dengan berubahnya fungsi lahan pertanian,” tegas Andri disampaikan Jayantara News. (Red JN)