Babinsa Salawu (Serda Yuyu Yunus), Piawai Jadi Dalang Sisipkan Pesan Nasionalisme

IMG-20180212-WA0138

Tasikmalaya – Jayantara News

IMG_20180202_185549

Menjadi Anggota TNI memang identik dengan dunia kemiliteran yang keras. Mereka dituntut memiliki karakter yang tegas demi menjaga stabilitas keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, segala tuntutan itu tidak lantas membuat Sersan Dua (Serda) Yuyu Yunus, salah satu anggota Babinsa di Komando Rayon Militer (Koramil) 1222 Salawu, Kodim 0612 Tasikmalaya, berhenti mengasah bakatnya dalam dunia seni dan budaya yang identik dengan kelembutan.

Selain piawai memainkan wayang golek tradisional, dia juga satu-satunya anggota di kesatuannya yang “nyambi” menjadi dalang.

Olah tubuhnya begitu luwes, suaranya merdu tatkala mendendangkan sepanjang memainkan wayang golek sejak kecil, sudah tidak asing bagi dirinya. “Dunia wayang sudah tidak aneh lagi bagi saya,” ujar Yuyu, mengawali ceritanya menjadi dalang kepada Jayantara News, Senin (12/02/2018).

Pria kelahiran Tasikmlaya, 48 tahun silam itu tertarik dengan pewayangan karena hampir setiap saudara atau tetangga yang menggelar hajatan selalu ada wayang golek.

Yuyu Yunus kecil tak pernah absen menonton wayang meski harus begadang sampai malam. Lalu muncul keinginannya untuk mempelajari wayang.

Yuyu masih teringat dengan pesan gurunya yang saat itu bilang, ‘kamu ini punya bakat (dalang). Berlatihlah terus, percaya diri, kamu akan berhasil’, ucapnya menirukan nasihat guru dalang.

Yuyu Yunus Adi Sunarya pun semangat belajar tentang wayang meski dengan otodidak di sela-sela aktivitasnya menjadi Anggota TNI. Kemampuannya mendalang terasah hingga akhirnya dipercaya untuk pentas di pernikahan sodaranya.

“Walaupun jadi tentara, tidak menghalangi saya untuk belajar wayang. Begitu sebaliknya, saya tetap bekerja menunaikan tugas tentara sambil mendalang. Kalau di kantor, saya bisa menghafal. Malam hari saya pentas,” papar Yuyu yang mengidolakan dalang almarhum Asep Sunandar Sunarya itu.

Bagi Yuyu, wayang bisa menjadi sarana untuk merekatkan kerukunan masyarakat. Ia juga selalu menyisipkan pengetahuan wawasan kebangsaan kepada masyarakat di samping bercerita tentang dunia wayang pada umumnya.

“Tugas saya di Satuan Teritorial, yang harus bisa berkomunikasi dengan masyarakat. Jadi, mendalang juga sekaligus bisa dekat dengan masyarakat. Saya bisa menyisipkan pesan untuk menjaga ketertiban, keamanan lingkungan, wawasan nusantara, dan sebagainya,” ungkapnya

Agar pesan mudah disampaikan, Sugiarto memodifikasi tokoh-tokoh wayang nya seperti anggota TNI. Dia sebut wayangnya dengan wayang loreng. Kostum yang dikenakan Cepot Dawala, Semar, Gareng dan tokoh lainnya, juga dibuat mirip seragam tentara berwarna hijau.

Dan pakaian Yuyu Yunus, dia merancang sendiri beskapnya (pakaian adat jawa Barat) dengan motif lorang-loreng hijau. Blangkon di kepala juga tak pernah ketinggalan.

Sampai sekarang, Yuyu telah memiliki 1170 buah wayang golek lengkap dengan alat musiknya yang ia simpan di rumahnya, di Dusun Pamoyanan, Desa Karangmukti, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Beberapa diantaranya ia beli sendiri, namun ada juga pemberian dan masih pinjaman kerabatnya. Di luar pekerjaannya menjadi tentara, dia mengaku kerap mendapat order mendalang pada pentas-pentas pewayangan di berbagai daerah, di Kabupaten Tasikmlaya dan sekitarnya.

Dengan menjadi dalang, dia membuktikan bahwa seorang tentara selain harus bersikap tegas, tetapi juga bisa penuh kelembutan melalui dunia seni budaya. “Tentara tidak hanya bisa bentak-bentak tapi juga bisa lembut dengan seni,” kata dia.

Sementara itu, Komandan Komando Rayon Militer (Danramil) 1222 Kecamatan Salawu, Kodim 0612 Tasikmalaya, Kapten Infantri Czi Dodi Antara, mengaku bangga dengan salah satu anggotanya yang masih melestarikan seni budaya bangsa di tengah gencarnya pengaruh budaya barat.

Sebagai tentara, Yuyu Yunus dinilai bisa membantu kesatuannya menghibur masyarakat pada acara-acara tertentu. “Melalui wayang bisa disisipkan pesan khusus tentang nasionalisme, program TNI, wawasan kebangsaan dan disiplin kepada masyarakat,” pungkasnya.

(Zank JN)