BPI KPNPA RI Kecam Keras Langkah Trump Akan Yerusalem

IMG-20171212-WA0039

Jakarta – Jayantara News

IMG_20171202_162634

Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, berdampak luar biasa di mata dunia. Contoh kecil, belum lama ini terjadinya bentrokan antara empat warga Palestina yang tewas dengan pasukan Israel pada hari Jum’at kemarin.

Wal hasil, kecaman pun datang dari berbagai pihak terhadap langkah Presiden Donald Trump yang dianggapnya suatu kebijakan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Kecaman terus berlanjut, dan tidak hanya datang dari para Kepala Negara, bahkan terakhir dari Uni Eropa dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Presiden Putin mengatakan, keputusan Presiden Trump bisa ‘menghapus prospek perdamaian’ antara Israel dan Palestina.

Menyikapi kebijakan Presiden Amerika ini, Rahmad Sukendar, sebagai Tokoh Pemerhati yang juga Ketua Umum BPI KPNPA RI (Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara dan Pengawas Anggaran Republik Indonesia), angkat bicara!.

Memang benar apa yang disampaikan Presiden Putin ketika mengadakan pertemuan dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di Ankara, hari Senin (11/12), kemarin.

Keputusan Presiden Trump, kata Rahmad, bukannya membantu dan mendorong situasi yang kondusif di Timur Tengah. Tapi justru menambah rumit, ungkap Rahmad, ketika ditemui Jayantara News, usai mengikuti acara Profit (Profesional Berintegritas), di Jakarta, Senin, 11 Desember 2017.

Rahmad mengecam dan mengutuk keras, langkah-langkah yang dianggapnya kebijakan bagi Donald Trump.

Apalagi, lanjut Rahmad, ketika langkah-langkah itu dimanfaatkan Israel untuk menekan dan melakukan tindak kekerasan terhadap warga Palestina.

Untuk itu, ungkap Rahmad. Ia berharap kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk berperan aktif selaku Ketua Gerakan Non Blok dan juga Anggota OKI, agar dapat memberi masukan dan pertimbangan sekaligus menekan kepada Presiden Trump untuk tidak memaksakan kehendak di dalam memindahkan Kedubes nya ke Kota Yerusalem, demi terciptanya stabilitas keamanan di Timur Tengah dan mengakui Integritas Negara Palestina sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

“Semoga saja semuanya dapat memahami opini masyarakat dunia yang saat ini sedang bergejolak dan menolak rencana pemindahan Ibukota Israel ke Yerusalem, demi terciptanya perdamaian dunia,” pungkas Rahmad. (JN 01)