Ironis! Berdekatan Kantor Kecamatan, Gubuk Reot Nenek Ana Luput Perhatian Pemerintah!

IMG_20180326_224615

Kab Tangerang – JAYANTARANEWS.COM

FB_IMG_1515036941798

Di tengah gencarnya Pemerintah menjalankan program pro-rakyat, ternyata masih banyak warga yang perlu mendapatkan perhatian serius, seperti halnya yang kini hidup di jalani wanita tua, Ana (70) salah seorang warga RT 03 RW 14 Kelurahan Selembaran, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Terpaksa nenek Ana bertahan hidup dengan keadaan rumah yang tidak layak huni atau rumah gubuk bambu.

Ironisnya, letak rumah itu berdekatan dengan Kantor Kecamatan Kosambi dan dua tempat tinggal anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang.

Sayang, seolah mereka menutupi mata hati yang seharusnya mudah dapat akses bantuan.

Ana sehari-hari bekerja serabutan. Buruh harian lepas tukang ikat sedotan dengan penghasilan Rp 8.000 /hari, terkadang sebagai tukang cuci panggilan.

Kondisi rumah nenek bercucu empat ini nampak beralaskan tanah, hampir semua beratap langit, bermalam diterangi lilin dan bulan.

Paling belakang bilik bambunya juga sudah pada bolong, jika musim penghujan tiba, nenek Ana bersama anaknya mengaku tak tidur, karena di dalam rumah penuh dengan lumpur dan genangan air.

Mereka sekeluarga seperti telah bersahabat dengan kesulitan, berkawan dengan penderitaan serta mungkin bersaudara dengan ketidakpedulian Pemerintah.

“Saya sama anak membersihkan air yang masuk ke dalam rumah dan mengeluarkan sisa-sisa lumpur sambil menunggu sampai hujan reda, baru bisa tidur,” keluh nenek Ana kepada wartawan.

Diceritakannya, pernah ketika dirinya sedang masak, tiba-tiba rumahnya roboh. Ana kebingungan, tunggu menantunya pulang, baru dicarikan bambu bekas untuk menyangga rumah agar tidak miring.

“Ya, namanya bekas jadi sama aja kagak kuat jadi tetap masih miring aja, saya sangat berharap bantuan atau uluran tangan dari Pemerintah agar bisa diberikan bantuan bedah rumah saya,” lanjut wanita janda empat tahun ini.

Demikian halnya dikatakan Saidah (35), anaknya Ana yang memiliki empat anak. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang keluarga ini mendapat beras dari tetangga atau ibu-ibu pengajian.

“Mereka kasihan kepada kami. Yah, kami bersyukur, Alhamdulillah atas bantuan tetangga yang peduli pada kami,” tutur Saidah anak nenek Ana. (Solihin)