Pemkab Karawang Mesti Peka Atas Berita Meninggalnya TKW Indonesia
IMG_20170927_071353
Karawang – Reportase Jayantara News

Berita meninggalnya Nuraisih Mainin Maarin, 38 tahun, warga RT 02 / RW 01 Dusun Krajan A, Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta, Karawang, di pesawat Saudi Airlines pada saat perjalanan pulang dari Saudi Arabia ke Indonesia, menjadi sorotan para aktivis muda Karawang.

Sebagaimana telah diberitakan pada edisi sebelumnya yang memang almarhumah sempat berkirim kabar bahwa saat itu almarhumah sedang sakit dan sedang menjalani pengobatan yang biayanya ditanggung oleh majikan Nuraisih di Saudi Arabia.

Namun setelah Nuraisih merasa agak mendingan, akhirnya memutuskan untuk pulang pada Sabtu 23 September 2017. Bahkan pukul 03 : 00 WIB, almarhumah sempat menghubungi ibu dan beberapa keluarganya yang mengabarkan bahwa dia mau pulang hari Sabtu itu meskipun pada akhirnya Allah berkehendak lain.

Berdasarkan keterangan Hj. Romlah (70), orangtua Nuraisih, pihak keluarga sudah tersambung dengan perwakilan KBRI di Srilanka. Pihak KBRI menjelaskan bahwa katanya harus dilakukan otopsi dulu terhadap jenazah selama dua hari, agar diketahui faktor penyebab meninggalnya Nuraisih. Perwakilan KBRI untuk Srilanka pun mengabarkan soal biaya pemulangan jenazah sebesar 3000 US dolar, atau sebesar 40 juta rupiah.

Hingga saat ini, pihak keluarga masih kebingungan dengan biaya pemulangan jenazah Nuraisih.

“Uang dari mana pak ? Kita ini orang tidak mampu. Untuk biaya hidup sehar-hari saja hanya cukup untuk makan. Kami berharap dan meminta pihak Pemerintah Karawang, agar bisa membantu pemulangan jenazah keluarga kami,” tutur Emad.

Di tempat terpisah, salah seorang aktivis muda Karawang, Andri Kurniawan, mengatakan, kalau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang tidak peduli dengan pemulangan jenazah almarhumah, dirinya akan mengajak kawan-kawan aktivis lainnya, untuk melakukan gerakan ngencleng koin ke kantor-kantor instansi dan dinas yang ada di Kabupaten Karawang.

“Apa tidak malu tuh Pemerintah, ada masyarakatnya yang merupakan pahlawan devisa, jenazahnya tidak bisa dipulangkan karena faktor biaya ?

Tapi mudah-mudahan Pemkab Karawang responsif atas persoalan ini. Jangan kalah dengan Bupati Purwakarta, yang pada saat mau menjadi narasumber dalam kuliah umum, tapi di bandara menemukan TKW terlantar karena tidak bisa pulang. Akhirnya Bupati membatalkan agendanya menjadi narasumber, hanya untuk dapat memulangkan 2 TKW asal Purwakarta dan Karawang tersebut, imbuhnya.

“Malu lah!. Kita ini dikenal dengan kabupaten kaya raya, investasi di mana-mana. Masa kalah dengan kepedulian seorang pemimpin yang memimpin kabupaten yang tidak memiliki nilai investasi tinggi seperti Purwakarta ? Peka dong dengan kesusahan warganya,” tandas Andri. (Ndri/Goes)