Pengusaha Merasa Diperas Oknum Polda Metro, BPI KPNPA RI Siap Kawal Sampai Tuntas !

Jakarta – jayantaranews.com

Terkait unsur pemerasan yang diduga dilakukan oleh oknum Polda Metro (Penyidik berpangkat Ipda berinisial ‘H’) terhadap seorang pengusaha batubara bernama Henry Daniel Setya, yang kemudian melaporkan oknum tersebut ke Unit III Subdit II Fismondev Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya ke Propam Mabes Polri, Kamis (19/10), menjadi berita viral di medsos.

Kejadian yang diawali dengan hilangnya uang sebesar Rp. 19 miliar di Bank Bukopin, hingga melaporkan ke Polda Metro Jaya. Namun saat proses hukum berjalan, Ipda ‘H’ ini meminta sejumlah uang kepada Daniel untuk proses penyelidikan dan penyidikan.

“Saya pertama kali memberi uang bergaining sebesar USD 50 ribu kepada oknum ini pada bulan Februari 2017 di Hotel Pullman, Jakarta Barat,” ujar Daniel di Polda Metro Jaya, Kamis (19/10).

Usai itu, Ipda ‘H’ meminta kembali uang sebesar USD 50 ribu pada Bulan April 2017. Penyerahan uang kedua dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat.

“Setelah permintaan kedua, oknum penyidik ini meminta agar saya memakai pengacara dari yang ditunjuk oknum ini. Lalu oknum ini dan pengacara yang sudah ditunjuk datangi langsung ke rumah ibu saya dan meminta uang USD 100 ribu, itu pada Bulan Agustus 2017,” ujar Daniel.

Lanjut Daniel, saat di rumahnya, Ipda ‘H’ mengatakan kalau sudah ada tersangka atas nama Sava Areil. Hal itu berdasarkan dua alat bukti yang dimiliki Polisi.

“Lalu pada tanggal 29 Agustus 2017 oknum penyidik tersebut meminta biaya Cyber yang di-handle Kanit dan mencari keberadaan tersangka. Oknum meminta uang ditransfer ke rekening pengacara yang ditunjuk. Saya kirim Rp. 5 juta. Lalu Tanggal 2 Oktober 2017 penyidik pesan lewat WA mengatakan sudah ada 5 tersangka atas gelar perkara pada 19 September 2017. Lalu tanggal 3 Oktober 2017, oknum ini meminta lagi biaya Kanit untuk melakukan penangkapan dan penahanan sebesar USD 50 ribu,” bebernya.

Merasa diperas, Daniel mencoba mengklarifikasi dengan pihak Kanit. Namun, ternyata apa yang disampaikan selama ini oleh Ipda ‘H’ tidak benar. “Ternyata belum ada tersangkanya,” tegasnya, sebagaimana dilansir Merdeka.com.

Atas kejadian tersebut, Drs. Rahmad Sukendar, SH, selaku Ketua Umum BPI KPNPA RI (Badan Peneliti Independen Kekayaan Penyelenggara Negara Pengawas Anggaran Republik Indonesia),  ikut mengapresiasi. Bahkan dirinya siap mengawal atas kejadian tersebut sampai tuntas.

“Permasalahan ini sudah tidak bisa dibiarkan. Apalagi terindikasi yang memperlihatkan adanya kehendak pelaku untuk menguntungkan dirinya sendiri atau orang lain. Jadi, pelaku sadar atas perbuatannya yang memaksa,” jelas Rahmad, dikonfirmasi jayantaranews.com, Jakarta (20/10).

Lebih jauh Rahmad menegaskan, “keadilah hukum harus ditegakkan oleh penegak hukum di Indonesia, apalagi ini menyangkut nama baik Institusi Polri. Ini demi memberikan rasa keadilan bagi masyarakat, dan citra Polri tentunya, tandas Rahmad. (Goes JN)