Tidak Bayar Upah Selama Pekerja Di Rumahkan, Majelis Hakim Nyatakan PT Newera Bersalah!

IMG_20180517_221623

JAYANTARANEWS.COM, GRESIK

FB_IMG_1515036941798

Sidang Pengadilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri Gresik, Jawa Timur, digelar hari Rabu, 16 Mei 2018, pukul 14.30 WIB dengan agenda Pembacaan Putusan.

Sebelumnya, para pekerja perempuan PT Newera Rubberindo sebanyak 73 orang  melakukan Gugatan ke PHI terhadap Pengusaha pada tanggal 05 Januari 2018.

Masalah ini bermula, saat Pimpinan Perusahaan mendirikan perusahaan baru di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, sehingga pada bulan Desember 2016, para pekerja ini di rumahkan oleh pihak pengusaha sampai dengan bulan Mei 2017, dengan diberikan upah sebesar 50% dari upah pokok.

Perusahaan yang bergerak di bidang alas kaki ini telah melakukan penangguhan Upah Minimum mulai tahun 2015 sampai dengan tahun 2018, yaitu sebesar Upah Minimum tahun sebelumnya selama 11 bulan. Sehingga para pekerja pada tahun 2017, dibayarkan upah sebesar Rp 3.042.500,- perbulan atau UMK tahun 2016 Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Namun di dalam perjalanannya, ke 73 orang pekerja perempuan ini hanya diberikan upah bulan Desember 2016 dan upah bulan Januari 2017, sebesar 50% dari upah pokok, sedangkan upah pada bulan Februari s/d Mei 2017 tidak diberikan oleh Pimpinan Perusahaan, dengan alasan, untuk masalah ini bukan menjadi tanggung jawab PT Newera Rubberindo.

Perlu diketahui, pada bulan Maret 2017, PT Indoplas Makmur berubah nama menjadi PT Newera Rubberindo sehingga alasan ini yang dijadikan dasar oleh Pimpinan Perusahaan PT Newera Rubbeindo, bahwa masalah upah 73 pekerja perempuan ini bukan tanggung jawab PT Newera Rubberindo, melainkan menjadi tanggung jawab Managemen PT Indoplas Makmur.

Melalui Efendi, Kuasa Hukum yang sekaligus merangkap sebagai Wakil Ketua Bidang Advokasi DPC F SP KEP Kabupaten Gresik Jawa Timur, para pekerja perempuan ini mengajukan gugatan untuk menuntut hak – hak 73 pekerja permpuan ini melalui Pengadilan Hubungan Industrial Kabupaten Gresik.

Di dalam mengajukan gugatan tersebut, 73 pekerja perempuan ini di bagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok Sugiarto dkk (35 orang) dengan perkara Nomor : 4/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Gsk dan Kelompok Jami dkk (38 orang) dengan perkara Nomor : 5/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Gsk.

Pada hari Rabu, 16 Mei 2018, Majelis Hakim membacakan Putusan Perkara Nomor 4/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Gsk dan nomor 5/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Gsk dan pihak Pengusaha (selaku tergugat)  dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim karena lalai tidak memberikan upah kepada 73 pekerja (para penggugat) perempuan tersebut. Adapun bunyi putusan tersebut, adalah sebagai berikut :

1. Mengabulkan gugatan para penggugat untuk sebagain,
2. Menghukum tergugat untuk membayar kekurangan upah bulan Desember 2016 dan Januari 2017 dengan Total Rp 222.102.500,-,
3. Menghukum tergugat untuk membayara upah bulan Februari s/d bulan Mei 2017 dengan Total Rp 888.410.000,-;
4. Menghukum tergugat untuk membayar denda keterlambataan upah maksimal 50% dengan total Rp. 444.205.000,-;
5. Menolak selain dan selebihnya gugatan para penggugat,
6. Menguhukum tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 576.000,-.

Sehingga dengan ini, Pengusaha PT Newera Rubberindo harus membayar  hak – hak 73 pekerja perempuan tersebut dengan total RP 1.554.717.500,-
(Tim)